Senin, 28 Januari 2013

Jurnal Perbaikan UTS Metode Riset


Judul               : Analisis Kepuasan Konsumen Terhadap Pelayanan Laundry Laurent
Pengarang       : Adya Dwi Prasetya
Tema               : Kepuasan Konsumen

Latar Belakang Masalah
Pada zaman serba instan ini, kebutuhan akan jasa pencucian pakaian cepat, bersih dan rapih mulai memegang peran penting di masyarakat, terutama di musim penghujan, ketika kebanyakan rumah tangga akan sangat sulit untuk mencuci dan menjemur di saat jarang terdapat matahari. Kualitas pelayanan yang baik dari suatu usaha pencucian pakaian atau laundry merupakan hal paling utama dalam memberikan kepuasan kepada konsumen. Kualitas pelayanan yang baik juga dapat memberikan citra yang baik pada usaha laundry. Kualitas pelayanan dapat dilihat dari dimensi kehandalan, keresponsifan, jaminan, empati dan berwujud. Dalam bidang pemasaran, pengembangan suatu produk jasa sangatlah penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Jasa pada dasarnya bersifat tidak berwujud, maka setiap orang yang mengkonsumsinya memiliki pengalaman yang berbeda-beda terhadap produk yang sama. Untuk itulah kualitas jasa pelayanan harus menjadi hal yang terpenting karena kualitas sangatlah mempengaruhi terhadap kepuasan pelayanan konsumen.

Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui apakah pelayanan yang dilakukan oleh Laundry Laurent memberikan kepuasan kepada konsumennya.
2.      Untuk mengetahui dimensi kualitas manakah yang paling dominan dalam mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen pada usaha Laundry Laurent.

Metodologi Penelitian           
1.      Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan data primer, dengan cara penelitian menggunakan kuesioner dari 24 maret – 7 april 2010.
2.      Identifikasi Variabel
Populasi di dalam penelitian ini jumlahnya tidak diketahui, yaitu semua konsumen jasa laundry pada usaha Laundry Laurent. Dan teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah dengan non probability sampling  yaitu teknik sampling yang tidak memberikan kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2007).
Konsumen atau pelanggan yang menggunakan jasa Laundry Laurent.
3.      Tahapan Penelitian
Di mulai dari proses editing, proses coding, proses scoring, sampai tabulasi.
4.      Model Penelitian
Uji hipotesis proporsi tunggal.
5.      Teknik Pengumpulan Data
Observasi, wawancara, kuesioner.
6.      Teknik Sampling
Dalam penelitian ini menggunakan teknik probabilitas yaitu dengan menggunakan teknik random.
7.      Analisis Data
Skala likert, Uji hipotesis proporsi tunggal.

Hipotesis
1.      Variabel harga (price) dan promosi (promotion) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan konsumen menggunakan jasa Laundry Laurent.
2.      Variabel promosi (promotion) merupakan variabel yang berpengaruh dominan dalam mempengaruhi keputusan konsumen menggunakan jasa Laundry Laurent.

Riset Analisis (Hasil Penelitian dan Kesimpulan)
1.      Jumlah konsumen yang menyatakan minimal puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh Laundry Laurent masih dibawah jumlah yang penulis tentukan dalam hipotesis. Jadi penulis menyatakan bahwa konsumen Laundry Laurent masih belum merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan.
2.      Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, diketahui bahwa dimensi kualitas pelayanan yang paling dominan mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen pada usaha Laundry Laurent adalah dimensi empati dengan jumlah skor 752 melalui metode Skala Likert dan dengan nilai 1.538 melalui pengujian hipotesis prporsi tunggal.

Saran dan Usulan Lanjutan
Sebaiknya Laundry Laurent lebih meningkatkan kualitas pelayanan dari semua dimensi koresponsifan yang memperlihatkan nilai terendah agar Laundry Laurent dapat memberikan kepuasan kepada para pelangganya dan sebagai langkah untuk menarik calon konsumen.
Pihak Laundry Laurent juga perlu meningkatkan kualitas di bidang sumber daya manusia terutama kinerja para karyawan dan berusaha meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan agar konsumen merasa puas dan semakin banyak konsumen yang mempergunakan jasa pencucian di Laundry Laurent.

Sumber
http://annisaprawidya1991.blogspot.com/2010/11/new-review-jurnal-2.html

Kamis, 10 Januari 2013

Pengaruh Situasi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang Masalah
Pengaruh Situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek. Situasi konsumen adalah faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
Pengaruh situasi didefinisikan sebagai semua faktor yang dapat member keterangan tempat dan waktu yang tidak berasal dari pengetahuan seseorang (dari dalam diri) dan rangsangan (pilihan alternative) atribut yang dapat diperagakan dan memberikan pengaruh secara sistematis terhadap perilaku saat ini.
Situasi adalah paket dari faktor luar diri konsumen yang digerakkan dari atribut yang relatif permanen atau stabil sebaik reaksi konsumen terhadap objek respons primer. Konsumen tidak merespons terhadap rangsangan seperti produk dan iklan yang disajikan oleh pemasar dalam isolasi. Sebaiknya, konsumen merespons kepada rangsangan pemasar secara simultan. Untuk memahami konsumen, kita harus mengetahui tentang konsumen, tentang objek seperti produk yang direspons konsumen dan situasi di mana respons ini terjadi [Hawkins (2001:478)]

1.2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah di atas, masalah dalam perumusan ini dirumuskan sebagai berikut :
1)      Tipe-tipe situasi konsumen
2)      Interaksi individu dengan situasi
3)      Pengaruh situasi tak terduga

1.3.      Tujuan Pembahasan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk :
1)      Menjelaskan dan membedakan berbagai tipe situasi konsumen dan karakteristik masing-masing
2)      Menjelaskan keterkaitan antara individu dengan situasi
3)      Menjelaskan pengaruh situasi tak terduga terhadap perilaku konsumen

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Tipe-Tipe Situasi Konsumen
            Suatu jenis situasi konsumen yang sangat penting yaitu situasi konsumen pemakaian. Situasi sebenarnya dapat dipisahkan ke dalam tiga jenis utama :
1.      Situasi Komunikasi
            Situasi komunikasi dapat didefinisikan sebagai latar di mana konsumen dihadapkan kepada komunikasi pribadi atau  nonpribadi. Komunikasi pribadi akan mencakupi percakapan yang mungkin diadakan oleh konsumen dengan orang lain, seperti wiraniaga atau sesame konsumen. Komunikasi nonpribadi akan melibatkan spektrum luas stimulus, seperti iklan dan program serta publikasi yang berorientasi konsumen (misalnya, Laporan Keuangan).
            Pengaruh situasi mungkin pula timbul dari program tertentu di masa suatu iklan muncul. Sesungguhnya, beberapa studi telah melaporkan efek seperti ini. Di dalam satu penelitian, keadaan suasana hati penonton sementara menyaksikan iklan di pengaruhi oleh acara di sekelilingnya. Acara yang menyenangkan menyebabkan suasana hati yang lebih menyenangkan selama pemaparan iklan dibandingkan dengan acara yang menimbulkan rasa sedih., keadaan suasana hati yang lebih menguntungkan ini menyebabkan subyek mempunyai pikiran yang lebih positif sementara mengolah iklan, dan juga ingatan yang lebih baik akan informasi dalam iklan bersangkutan. Namun, dampak acara TV mungkin bergantung kepada jenis iklannya. Studi terbatu melaporkan bahwa acara yang menyenangkan menghasilkan ingatan yang lebih besar daripada acara yang membuat sedih untuk iklan yang menyenangkan, sementara acara tersebut tidak mempunyai efek yang berarti pada ingatan untuk iklan yang menyedihkan.
            Begitu pula, minat atau keterlibatan konsumen dengan suatu acara mungkin menentukan sebagian keefektifitan iklan. Ingatan akan merek yang diiklankan dan teks iklan lebih rendah untuk iklan yang diperhatikan selama suatu acara yang lebih melibatkan dibandingkan acara yang kurang melibatkan penonton. Selain itu, sikap terhadap iklan kerap lebih menguntungkan bila pemaparan iklan terjadi selama acara yang kurang melibatkan penonton.
            Para pelaksana sangat sadar akan pengaruh potensial yang mungkin ditimbulkan oleh suatu program keefektifan iklan mereka. Cola-cola, musalnya menghindari dari pemutaran iklan selama cara berita TV kerena akan ada beberapa berita untuk buruk di dalamnya dan Coke adalah produk yang menyenangkan dan ringan. Perhatian serupa menyebabkan Chrysler menarik iklannya dari mini seri ABC “Amerika” yang merupakan topik dari konsumen dalam fokus.
2.      Situasi Pembelian
            Situasi pembelian mengacu pada latar di mana konsumen memperoleh produk dan jasa. Pengaruh situasi sangat lazim selama pembelian. Sebagai contoh yang sederhana, pertimbangan perubahan hebat dalam kepekaan konsumen akan harga di dalam situasi pembelian. Penjualan makanan akan merasa sangat sulit untuk membebankan harga yang harus dibayar konsumen untuk soda  dan jajanan di bioskop atau stadion baseball/stadion bola.
            Pengaruh situasi dapat mewujudkan diri dalam bermacam cara selama pembelian, beberapa bentuk utama dideskripsikan berikut ini :
a.       Lingkungan Informasi
      Lingkungan Informasi mengacu pada keseluruhan jajaran data yang berkaitan dengan produk yang tersedia bagi konsumen. Sifat Lingkungan Informasi akan menjadi determinan penting dari perilaku pasar kerika konsumen terlibat di dalam semacam bentuk pengambilan keputusan nonkebiasaan. Sebagian dari karakteristik lingkungan yang utama mencakupi :
1)      Ketersediaan Informasi
2)      Beban Informasi
3)      Format Informasi
4)      Bentuk Informasi
b.      Lingkungan Eceran
      Sifat fisik dari lingkungan eceran, kerap diacu sebagai store atmospheries, sangat menarik bagi para pemasar karena dua alasan mendasar. Pertama, berbeda dengan banyak pengaruh situasi yang berada di luar kendali pemasar, mereka mempunyai kemampuan untuk menciptakan lingkungan eceran. Kedua, pengaruh ini dibidikkan kepada konsumen dapat di tempat yang benar di dalam toko.
      Dari prespektif pemasar, atmospherics suatu toko dapat mempunyai sejumlah efek yang diharapkan pada konsumen. Pertama, atmospherics dapat membantu membentuk arah maupun dari durasi perhatian konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan pembelian untuk produk yang mungkin saja terabaikan. Kedua, lingkungan eceran dapat mengekspresikan berbagai aspek mengenai toko kepada konsumen, seperti khalayak yang dimaksudkan dan penempatan (misalnya, toko busana berharap untuk menarik pelanggan skala atas dengan citra mode). Akhirnya, latar toko dapat pula mendatangkan reaksi emosi tertentu dari konsumen (misalnya, kesenangan dan kegairahan). Penelitian mengemukakan bahwa perasaan ini dapat mempengaruhi jumlah waktu dan uang yang dihabiskan sewaktu berbelanja.
      Lingkungan eceran terdiri dari beberapa macam elemen diantaranya :
1)      Musik
2)      Tata Ruang dan Lokasi di Dalam Toko
3)      Warna
4)      Bahan POP (Point-Of-Purchase)
5)      Wiraniaga
6)      Kesesakan
7)      Pengaruh Waktu
3.      Situasi Pemakaian
            Situasi pemakai (Usage Situaition), yang mengacu pada latar di mana konsumsi terjadi. Dalam banyak kejadian, situasi pembelian dan pemakaian sebenarnya sama (misalnya, konsumen yang memakan hidangan mereka di restoran fast-food). Tetapi, konsumen produk kerap di dalam latar yang sangat jauh, baik secara fisik maupun temporal, dari latar di mana produk diperoleh.
            Lingkungan sosial yang mencirikan situasi pemakaian dapat mempunyai pengaruh penting pada perilaku konsumen. Di dalam lingkungan dewasa ini yang semakin antirokok, kehadiran orang yang bukan perokok kerap akan berfungsi sebagai rintangan bagi perokok yang ingin menyalakan rokoknya. Penjualan bir khususnya peka terhadap apakah konsumsi terjadi di dalam latar umum versus pribadi. Antara 80 dan 90 persen penjualan bir impor adalah “di dalam gedung” (misalnya, di dalam bar dan restoran) di mana orang lain dapat melihat jenis biar yang diminum. Sebagai kontras, 70 persen dari penjualan merek domestik dihasilkan oleh konsumsi di dalam rumah.
            Waktu dimana pemakaian terjadi mungkin pula mempengaruhi perilaku konsumen. Sebagai contoh, konsumsi makanan sangat bergantung pada waktu dalam satu hari. Kita jarang memakan spageti untuk sarapan atau serealia untuk makan malam. Sebagai contoh memperlihatkan preferensi mahasiswa atau masyarakat intuk berbagai buah bergantung pada waktu dalam satu hari dan konteks di mana konsumsi terjadi. Contoh : buah pesik adalah buah yang paling disukai untuk sarapan atau jajanan pada siang hari, tetapi digantikan dengan arbie untuk pencuci mulut pada waktu makan malam.

2.2.      Interaksi Individu Dengan Situasi
            Sacara implisit mengasumsikan bahwa semua konsumen berespons dengan cara yang sama terhadap situasi tertentu. Namun, kenyataannya tidak harus demikian. Walaupun sebagaian konsumen mungkin sangat dipengaruhi oleh variasi situasi, yang lain mungkin sering terbukti agar tidak peka.
            Ide bahwa konsumen tidak homogeny dalam respons mereka trehadap faktor situasi memiliki implikasi penting untuk pemangsaan pasar. Karena kosumen yang berbeda mungkin mencari manfaat produk yang berbeda, yang dapat berubah melintasi situasi pemakaian yang berbeda, diskon berargumen bahwa pemasar mungkin kerap perlu menggunakan pemangsaan orang-situasi. Ini adalah manfaat yang seharusnya disampaikan oleh produk dalam membujuk pangsa pasar orang-situasi yang spesifik. Selain itu, beberapa pangsa orang-situasi mencari manfaat yang unik (misalnya, lation musim dingin dengan wangi-wangian untuk pemain ski wanita). Pabrik suntan yang tertarik untuk menargetkan wanita dewasa berkulit hitam yang menggunakan produk tersebut sewaktu bermain ski, misalnya, harus menyertakan bahan yang akan memberikan perlindungan khusus sinar matahari dan cuaca, formula antibeku, dan wangi-wangian parfum musim dingin yang menarik bagi wanita.
            Gaya hidup pembelian juga mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keputusan pembelian konsumen atas sesuatu. Konsumen dengan gaya hidup believer ternyata juga mengikuti mode-mode pakaian khususnya misalnya celana jeans sehingga gaya hidup mereka berpengaruh terhadap keputusan pembelian yang dilakukan. Situasi pembelian dan gaya hidup terhadap mode bagi konsumen dengan gaya hidup believer ternyata cukup tinggi mampu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dengan pengaruhnya sebesar 68%.

2.3.      Pengaruh Situasi Tak Terduga
            Situasi tidak terduga dapat menjadi pemicu seseorang untuk membeli suatu barang. Misalnya mahasiswi yang akan mengikuti ujian dan lupa membawa bolpoin dan pensil, maka secara otomatis dia akan membeli dulu bolpoin dan pensil sebelum mengikuti ujian tersebut.
            Pemasar kadang bertanya kepada konsumen tearget mengenai maksud pembelian mereka untuk meramalkan permintaan produk pada masa datang. Walaupun maksud pembelian dapat bersifat prediktif mengenai perilaku masa dating, satu ancaman besar terhadap daya persfektif mereka adalah gangguan yang disebabkan oleh pengaruh situasi yang tak terduga.
            Sebagai contoh, Seorang konsumen mungkin sepenuhnya mengantisipasikan pembelian merek kripik kentang tertentu selama kunjungan yang berikutnya ke toko makanan. Namun, maksud pembelian ini mungkin tidak terpenuhi bila produk tersebut habis atau bila ada merek lain dengan kualitassama dijual disana. Sebaliknya, seorang konsumen mungkin tidak berminat untuk membeli berikunya mungkin terjadi karena semacam kejadian yang tidak diantisipasikan (misalnya, orang yang bukan peminum kopi membeli kopi untuk orang tuanya yang suka minum kopi).
            Contoh tentang adanya pengaruh situasi dalam perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
1.      Seorang konsumen yang sedang berada disupermarket melihat barang yang ia butuhkan atau teringat akan barang yang telah habis untuk kosan atau rumahnya, maka ia membeli barang tersebut tidak sengaja atau karena teringat bukan karena adanya rencana pembelian
2.      Seorang konsumen sedang berada di Bandara, karena ia haus dan tidak membawa air minum maka ia membeli minum meskipun harganya jauh lebih mahal dibandingkan ketika ia beli diluar sana, dari pada kehausan ia akhirnya memutuskan untuk membeli air minum tersebut dengan harga yang mahal, ia dapat saja membeli diluar sana dengan harga yang lebih murah, tetapi demi menghemat tenaga dan waktu ia membeli air minum di bandara tersebut.
3.      Jika seseorang muslim sedang berada diluar negeri atau sedang dalam tour atau wisata beberapa hari, ia tidak tahu dan tidak mengenal makanan yang berada diluar negeri yang ia berada, karena takut adanya kandungan zat yang berbahaya dan diharamkan dalam islam, ia terpaksa untuk membeli mie instan Indonesia yang dijual disana karena ia sudah percaya akan kualitas Indonesia (negerinya sendiri)
4.      Seseorang yang sedang dalam konser membeli lightstick, baju, bando bertuliskan nama sang idola, atau poster-poster idolanya yang dijual disana untuk lebih menciptakan suasana konser tersebut meskipun ia harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

BAB III
PENUTUP

3.1.      Kesimpulan
            Situasi merupakan keseluruhan faktor pada suatu waktu dan tempat tertentu dari pengamatan yang tidak berasal dari pengetahuan personal (intra-individuI dan atribut rangsangan (pilihan alternatif), serta mempunyai pengaruh yang terlihat dan sistematis terhadap perilaku saat ini. Selain itu, pengaruh situasi juga bisa berpengaruh pada kondisi sementara atau setting yang terjadi dalam lingkungan pada waktu dan tempat tertentu.