Senin, 28 Maret 2016

Biarkan Dalam Diam

Seminggu sudah;
Aku, Kamu, Kita berdiam dalam muram. Kita lepas tanpa ada perbincangan. Hilang dalam suasana mencengangkan. Seperti inilah kita. Dengan keegoisan tanpa mau berkata terbuka. Lalu harus sampai kapan?

Kalo dibilang rindu, ya... Aku rindu, kamu rindu; kita rindu kita. Tapi takdir seakan berkata "sudah tidak akan ada lagi tempat untuk kita. Tempat berbagi kisah dalam penutup senja. Tempat bersenda gurau dalam luapan sayang disetiap harinya." Miris memang.

Setiap hari aku lihat kamu, kamu lihat aku. Hanya seutas senyum yang mampu kita torehkan. Tanpa bersua tanpa berdekatan. Lucu yaa, dua orang yang terbiasa bersama sekarang saling menjaga jarak; demi menghargai satu sama lain.

Tetaplah seperti ini;
Meski kamu terus berusaha membuka kata, merobek tembok keasingan. meski aku terkadang masih menghubungimu.
Tetaplah, biarkan angin membawa kita pada masing-masing takdir yang telah digoreskan.

Aku , Kamu , kini tidak menjadi Kita.

Minggu, 27 Maret 2016

Long Weekend versi RDW's

Seperti yang sudah -sering- kami alamin, untuk nyatuin Ibu, Bapak, Gue dan Adik itu susah2 gampang.. Dikarenakan kehidupan kami yang berbeda lokasi. Ya mungkin gue free lah yaa karena tiap weekend pulang dan dirumah-pun sudah ada Ibu Bapak yang menyambut kehadiran; tapi beda cerita dengan Adik gue. Dia ngekost di Bandung,- dan mulai cinta sama Bandung- dengan berbagai kegiatan perkuliahan serta organisasi yang membludak. Makanya perlu usaha dan bujuk rayu ekstra untuk bisa okein si Bungsu balik kerumah.
Dan dikesempatan perkalenderan yang super cihuy ini (Jumat tanggal Merah) akhirnya sepakat Adik bisa pulang di Kamis malam (karena sebelumnya mau pulang di Jumat malam 😐).. Baiklah akhirnya rencana kami jalankan dengan seksama.
Sebut saja Day One (Jumat, 25 Maret 2016) dengan semangat membara -karena diiming-imingin Ibu bakal mampir ke Anyer, nyantai di Pantai- kami semua berangkat ke Serang untuk pratinjau lokasi kerja Bapak per 15 April ini. Niat hati sih setelah sampai sana bakal cari kost-an / kontrakkan dan langsung caw ke Anyer. Tapi sayangnya, baru juga sampai di lokasi pertama (Kantor Bapak), Ibu dapet telepon dari Kantor bahwa ada kerjaan yang masih nyangkut di bagian akuntansi dan harus diselesaikan terakhir jam 1 siang. Ya mampus lah, posisi di Serang udah jam 11.45 dan mau Jum'atan pula, akhirnya diputuskan -mohon maaf- untuk Bapak dan Adik tidak bisa ikut Jum'atan dulu karena ngejar waktu. Bener aja, 12.45 kami mendarat dengan mulus di Kantor Ibu guna penyelesaian tugas. Lalu kami? Apa yang kami lakukan selama Ibu kerja (yang ternyata makan waktu lama)? Yap, kami berkelana cari makan, cari cemilan dan cari keperluan kami (baca: Shoppingg 😈) dan tepat pukul 5 sore Ibu bergabung dengan kami di sebuah mall tertua di Bekasi untuk menjelajah keinginan kami semua kembali. Malamnya ditutup dengan makan ayam krispi cepat saji di salah satu komplek real estate tertua Bekasi. Ya perlu diketahui, Sabtu gue dan Bapak masih harus berjibaku dengan pekerjaan (baca: HARPITNAS 😅) sampailah kami jam 9 dirumah.
Sementara Day Two (Sabtu, 26 Maret 2016) kehidupan berjalan terpisah, Gue dikantor Gue, Bokap dikantornya, sementara Ibu dan Adik sibuk dengan kemalasan mereka di hari Liburnya. Well, siangnya gue janjian dengan Ibu dan Adik disalah satu makanan ayam krispi cepat saji -lagi- yang deket dengan rumah untuk sekalian bertemu si Abot, Anak bontot menggemaskan bernama Erga yang ga pernah bosen makanin itu ayam sambil main perosotan 😅 seusai dari situ, Gue dan Adik pulang (melanjutkan leha-leha kami) sementara Ibu ada janji dengan Bapak ke suatu tempat. Dan baru malam hari Gue dan Adik keluar untuk makan sambil sejalan jemput Bapak di Suatu tempat daerah Kalimas.. Ya ampun jam 10.15 malam baru kelar tuh acara Bapak 😓
Lalu bagaimana dengan Day Three kami (Minggu, 27 Maret 2016)? Yuhuuu, pagi-pagi buta (ga sih, jam 9 kok) kami berangkat ke Daerah Bogor untuk perta durian di Warso Farm sambil cekrakcekrek bersama. Syahdu dan Syurga sekali disana (dan ga pernah bosen pergi kesana! 😆) after that kita maksi di Toge Goreng Abah Abung dan lanjut beli asinan Gedung Dalam (menu wajib Ibu kalo ke Bogor) lalu langsung tancap gas balik kandang karena ngejar Baraya Travel (untuk Adik pulang kembali ke Bandung) jam 4 sore. Perjalanan yang sedikit zigzag ini membawa kami sampai di lokasi satu jam lebih awal dari jadwal keberangkatan, sampai akhirnya Adik memutuskan untuk naik travel yang jam 3 saja..
dan selesailah sudah gue bercerita tentang (menurut gue) keseruan liburan panjang versi kami sekeluarga.. Yah namanya juga cerita, suka silahkan baca sampai kelar dan kalo ga suka silahkan keluar dari blog gue 😛 toh gue nulis ini semua hanya sebagai reminder gue kedepan bahwa gue -Alhamdulillah- bisa menghabiskan waktu bareng Ibu, Bapak dan Adik kembali di tengah2 kesibukkan kami masing-masing..
Inget yaa, luangin waktu kalian untuk berkumpul bersama keluarga, mumpung masih sehat, masih dikasih rezeki, masih dikasih tenaga dan masih diberi unur panjang sama Allah Ta'ala..
Udah ah, sekian dulu cerita gue kali ini... Dan, Terima Kasih ya Allah atas NikmatMu yang tak henti mampir di keluarga ku 😇

Selasa, 22 Maret 2016

Am I Wrong?!✌

Orang kalo udah nyaman sama sesuatu hal, pasti akan susah untuk pindah. Keluar dari zona aman, memulai kondisi untuk merasa nyaman..
Sama kaya gue, setahun kebelakang gue keluar dari zona aman dan nyaman. Beradaptasi dengan orang baru; dengan berbagai karakter dan topeng yang menutupi rias senyum dan keramahannya. Gue belajar, sampai dengan saat ini, namun perpindahan itu masih terasa berat buat gue. Gue belum bisa sepenuhnya meninggalkan apa yang sudah gue bangun, gue jaga dan gue "rawat" untuk sampai sejauh ini..
Temen gue ngomong, "keluar aja dari zona nyaman lu, nanti juga akan tercipta hal baru lagi yang bisa ngebuat kita bisa lebih "luas" dari sebelumnya", tapi kok jadinya -di gue- terkesan maksa yaa... Ibarat kebutuhan hidup manusia, yaa zona nyaman gue ada di posisi primer, sementara sekunder gue mungkin dipenuhi dengan tugas, kewajiban; bahkan kesuksesan gue kedepannya..
Nggak munafik sih, siapa juga yang ga kepengen mapan? ga pengen kaya? Dan ga kepengen hidup ga susah? jawabannya pasti nggak ada. Tapi gue, diumur gue yang udah masuk fase menyebar undangan pernikahan malah berpikir yaa kesuksesan gue itu keluarga.. Dimana gue bisa liat bokap nyokap bahagia, gue bisa ngebuat bokap nyokap merasa aman untuk gue tinggalin sementara (dalam artian kerjaan) dan gue bisa merasa bangga bisa membuat bangga kedua orang tua gue. Intinya sih, gue ga mikir quantity tapi gue mikir quality. Ga peduli quantity gue besar tapi gue ga punya quanlity ya buat apa? Lebih baik cari yang kecil tapi gue bisa merasa aman untuk ngebuat nyokap bokap gue bahagia.. Kuncinya sih itu, menurut gue.
So, gue janji -untuk diri gue sendiri- gue akan ngebuang quantity gue yang sekarang untuk membuat quality gue bersama hal2 primer gue bisa selaras, sehingga nantinya gue bisa jauh lebih fokus  untuk mengembangkan wawasan ilmu dan pencapaian untuk bisa membuat lebih banyak moment-moment berharga dengan bokap dan nyokap gue dengan hal2 primer gue.
Well, kalian boleh berucap gue sebagai anak yang nggak bisa jauh dari ortu, gue ga marah, gue justru BANGGA... disaat orang lain lebih mentingin upload foto dengan teman/pacar/makananminuman kesukaan mereka gue jauh lebih BAHAGIA apabila gue bisa check-in / upload foto beraama keluarga...✌️
Karena nantinya -akan ada saatnya- gue bakal ngelepas keluarga gue jika sudah ada yang bisa magerin gue dalam lingkup keluarga 😊 and I'll be waiting for that!💋

Rabu, 08 Januari 2014

Etika Bisnis 2


Contoh Kasus Hak Pekerja
Konflik Buruh Dengan PT Megariamas
Sekitar 500 buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Garmen Tekstil dan Sepatu-Gabungan Serikat Buruh Independen (SBGTS-GSBI) PT Megariamas Sentosa, Selasa (23/9) siang ‘menyerbu’ Kantor Sudin Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Jakarta Utara di Jl Plumpang Raya, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka menuntut pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang mempekerjakan mereka karena mangkir memberikan tunjangan hari raya (THR).
Ratusan buruh PT Megariamas Sentosa yang berlokasi di Jl Jembatan III Ruko 36 Q, Pluit, Penjaringan, Jakut, datang sekitar pukuk 12.00 WIB. Sebelum ditemui Kasudin Nakertrans Jakut, mereka menggelar orasi yang diwarnai aneka macam poster yang mengecam usaha perusahaan menahan THR mereka. Padahal THR merupakan kewajiban perusahaan sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 4/1994 tentang THR.
“Kami menuntut hak kami untuk mendapatkan THR sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dan jangan dikarenakan ada konflik internal kami tidak mendapatkan THR, karena setahu kami perusahaan garmen tersebut tidak merugi, bahkan sebaliknya. Jadi kami minta pihak Sudin Nakertrans Jakut bisa memfasilitasi kami,” jelas Abidin, koordinator unjuk rasa ketika berorasi di tengah-tengah rekannya yang didominasi kaum perempuan itu, Selasa (23/9) di depan kantor Sudin Nakertrans Jakut. Sekedar diketahui ratusan buruh perusahaan garmen dengan memproduksi pakaian dalam merek Sorella, Pieree Cardine, Felahcy, dan Young Heart untuk ekspor itu telah berdiri sejak 1989 ini mempekerjakan sekitar 800 karyawan yang mayoritas perempuan.
Demonstrasi ke Kantor Nakertrans bukan yang pertama, sebelumnya ratusan buruh ini juga mengadukan nasibnya karena perusahan bertindak sewenang-wenang pada karyawan. Bahkan ada beberapa buruh yang diberhentikan pihak perusahaan karena dinilai terlalu vokal. Akibatnya, kasus konflik antar buruh dan manajemen dilanjutkan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Karena itu, pihak manajemen mengancam tidak akan memberikan THR kepada pekerjanya.
Mengetahui hal tersebut, ratusan buruh PT Megariamas Sentosa mengadu ke kantor Sudin Nakertrans Jakut. Setelah dua jam menggelar orasi di depan halaman Sudin Nakertrans Jakut, bahkan hendak memaksa masuk ke dalam kantor. Akhirnya perwakilan buruh diterima oleh Kasudin Nakertrans, Saut Tambunan di ruang rapat kantornya. Dalam peryataannya di depan para pendemo, Sahut Tambunan berjanji akan menampung aspirasi para pengunjuk rasa dan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. "Pasti kami akan bantu, dan kami siap untuk menjadi fasilitator untuk menyelesaikan masalah ini," tutur Sahut.
Selain itu, Sahut juga akan memanggil pengusaha agar mau memberikan THR karena itu sudah kewajiban. “Kalau memang perusahaan tersebut mengaku merugi, pihak manajemen wajib melaporkan ke pemerintah dengan bukti konkret,” kata Saut Tambunan kepada beritajakarta.com usai menggelar pertemuan dengan para perwakilan demonstrasi.
Sesuai peraturan, karyawan dengan masa kerja di atas satu tahun berhak menerima THR. Sementara bagi karyawan dengan masa kerja di bawah satu tahun di atas tiga bulan, THR-nya akan diberikan secara proporsional atau diberikan sebesar 3/12X1 bulan gaji. Karyawan yang baru bekerja di bawah tiga bulan bisa daja dapat tergantung dari kebijakan perusahaan.
Saut menambahkan, sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang didemo karena mangkir membayar THR. “Sesuai dengan peraturan H-7 seluruh perusahaan sudah harus membayar THR kepada karyawannya. Karena itu, kami upayakan memfasilitasi. Untuk kasus karyawan PT Megariamas Sentosa memang sedang ada sedikit permasalahan sehingga manajemen sengaja menahan THR mereka. Namun, sebenarnya itu tidak boleh dan besok kami upayakan memfasilitasi ke manajemen perusahaan.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk kawasan Jakarta Utara tercatat ada sekitar 3000 badan usaha atau perusahaan di sektor formal. Untuk melakukan monitoring, pihaknya menugaskan 15 personel pengawas dan 10 personel mediator untuk menangani berbagai kasus seperti kecelakaan kerja, pemutusan hubungan kerja, tuntutan upah maupun upah normatif dan THR. “Kami masih kekurangan personel, idealnya ada 150 personel pengawas dan 100 personel mediator,” tandas Saut Tambunan.
Sumber : http://innasyakusumadewi.blogspot.com/2014/01/contoh-kasus-hak-pekerja-contoh-kasus.html

Contoh Kasus Iklan Yang Tidak Etis
Periklanan Pengobatan Alternatif  Tidak Etis
Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional Alternatif dan Komplementer Kementerian Kesehatan Abidin Syah Siregar mengatakan, iklan pelayanan kesehatan alternatif yang sering ditayangkan di berbagai stasiun televisi akhir-akhir ini tidak etis. Menurut dia, pengobatan tradisional berada pada wilayah peningkatan kualitas kesehatan dan pencegahan penyakit, bukan menjamin kesembuhan. "Dokter saja tidak berani menjamin," katanya kepada wartawan di Jakarta, 15 Agustus 2012. Abidin mengatakan, iklan yang menjamin kesembuhan berbahaya bagi masyarakat. Pasalnya, iklan macam itu akan memberi harapan berlebihan kepada masyarakat. Menurut Abidin, fenomena kegandrungan pada pengobatan tradisional, khususnya pengobatan tradisional dunia, memang sedang melanda dunia. "Banyak iklan yang bahkan menyudutkan pengobatan konvensional, yang mengatakan bahwa tubuh ini seharusnya tidak dimasuki zat kimia," ujarnya. Menurut dia, fenomena ini adalah cermin tren back to nature. Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Agus Purwadianto mengatakan penayangan iklan pengobatan alternatif yang menjamin kesembuhan juga melanggar Peraturan Menteri Kesehatan No. 1787 tahun 2010 Pasal 5 huruf f yang menyatakan bahwa melarang publikasi alat atau metode baru yang masih belum diterima umum di kalangan dokter karena masih diragukan. Pihaknya mengatakan, perlu sinergi antara berbagai pihak untuk mencegah informasi yang berbahaya ini tersebar di masyarakat.
Pada 9 dan 10 Agustus lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melayangkan surat teguran kepada lima stasiun televisi, yaitu Metro TV, Trans TV, Global TV, Trans 7, dan TV One. KPI menegur mereka lantaran menampilkan iklan pelayanan kesehatan alternatif yang tidak etis, di antaranya iklan klinik Tong Fang dan Can Jiang. Menurut Komisioner KPI Nina Mutmainah Armando, iklan tersebut tidak etis karena menampilkan promosi dan testimoni yang berisi jaminan kesembuhan dari pasien.  Ketua Ikatan Naturopatis Indonesia (IKNI) Sujanto Mardjuki membenarkan bahwa iklan layanan kesehatan yang menjamin kesembuhan tidak etis. Menurut pemimpin organisasi yang menaungi berbagai insitusi pelayanan kesehatan tradisional ini, anggotanya tidak pernah melakukan publikasi macam itu. "Anggota kami sudah taat pada peraturan menteri kesehatan, seharusnnya klinik-klinik yang melanggar ketentuan itu tidak boleh dibiarkan," kata Martani, salah satu anggota IKNI.
Sumber : ww.tempo.co/read/news/2012/08/15/173423806/Iklan-Pengobatan-Alternatif-Dinilai Tak-Etis

Contoh Kasus Etika Pasar Bebas
Kasus Etika Bisnis Indomie Di Taiwan
            Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis terutama menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar. Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya.
            Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.
            Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. “Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini,” kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadai, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.
            A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah. Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
            Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.
Sumber : http://innasyakusumadewi.blogspot.com/2014/01/contoh-kasus-hak-pekerja-contoh-kasus.html

Contoh Kasus Whistle Blowing
Whistleblower adalah seseorang yang melaporkan perbuatan yang berindikasi tindak pidana korupsi yang terjadi di dalam organisasi tempat dia bekerja, dan dia memiliki akses informasi yang memadai atas terjadinya indikasi tindak pidana korupsi tersebut. Dalam arti harfiahnya whistleblower adalah peniup peluit. Sejenis peluit yang sering digunakan dalam pertandingan olahraga. Istilah whistleblower ini sebernarnya bukan sesuatu yang baru. Istilah tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Ralph Nader, seorang aktivis di Amerika Serikat untuk menghindari konotasi negatif terhadap istilah informan atau pengadu. Mesin pencari Wikipedia.org menggunakan istilah “Pengungkap Aib” untuk menerjemahkan whistleblower. Secara umum whistleblower sebenarnya tidak hanya melaporkan masalah korupsi saja, tetapi juga skandal lain atau segala hal yang melanggar hukum dan dapat menimbulkan tidak hanya kerugian tetapi ancaman bagi masyarakat.
Contoh yang paling popular di Indonesia tentang Whistleblower adalah ketika maraknya pemberitaan yang menimpa Kepolisian Republik Indonesia yang berhadapan dengan whistle blower (Komjen Susno Duadji, mantan Kabareskrim Polri). Skandal ditubuh Kepolisian yang dilaporkan oleh Whistleblower ketika itu adalah skandal makelar kasus. Atas keberaniannya mengungkap kebenaran atas pelanggaran yang terjadi maka Komjen Susno Duadji, meraih Whistle Blower Award 2010 dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas). Susno menang karena dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh panitia, yaitu laporannya berdasarkan fakta dan bukan fitnah; memberikan dampak publik yang luas dan positif; bertujuan agar ada langkah-langkah konkret untuk perbaikan ke depan; tidak ada motivasi untuk memopulerkan diri dan meraih keuntungan pribadi, baik secara fisik maupun secara finansial; serta menyadari sepenuhnya segala potensi risiko bagi dirinya atau keluarganya.
Memang beberapa kalangan tertentu, terutama yang memberi arti sempit terhadap semangat korp (esprit de corp) memandang whistleblower adalah seorang pengkhianat karena melaporkan masalah internal institusinya kepada KPK. Tetapi bagi masyarakat umum yang terhindar dari kerugian lebih besar akibat informasi yang dilaporkan kepada KPK, sehingga pihak yang bersalah bisa dikenakan sangsi, Whistleblower adalah pahlawan.
Untuk yang ingin melaporkan indikasi tindak pidana korupsi, tapi merasa sungkan atau takut identitasnya terungkap, karena kebetulan kenal baik dengan pelakunya, misalnya atasan, teman sekerja, dan lain-lain, seseorang bisa menggunakan fasilitas Whistleblower. Sebenarnya, melaporkan indikasi tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh atasan kepada bagian Pengawasan Internal di tempat seseorang bekerja bisa saja dilakukan, tapi tidak ada jaminan identitas pelapor akan terjaga kerahasiaannya. Dengan menjadi whistleblower bagi KPK, kerahasiaan identitas pasti dijamin KPK.
Sumber : http://politik.kompasiana.com/2012/04/11/whistleblower-pahlawan-atau-pengkhianat-454038.html