Jumat, 22 Maret 2013

BAB I - PENALARAN


I.                   Definisi Penalaran
Bernalar yaitu proses berpikir yang menghasilkan suatu pengertian dalam pembahasan suatu masalah yang dilakukan secara logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan kesimpulan. Selain itu penalaran dapat diartikan menghubung-hubungkan fakta atau data, menganalisis suatu topik yang menghasilkan suatu pengertian sampai dengan suatu kesimpulan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah.
Hakikat penalaran terlahir dari tutur bahasa makhluk yang berpikir. Dampaknya oleh beberapa ahli pikir, manusia adalah Animal Rationale yang dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi. Nama Animal Rationale itu sendiri berasal dari bahasa Yunani “Logon Ekhoon”, dimana Logon itu berarti Logos yang artinya menunjukkan sesuatu perbuatan atau isyarat, inti sesuatu hal, cerita, kata, atau susunan.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpanan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consenquence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. Cara berpikir masyarakat dapat dibagi menjadi 2, yaitu : Analitik dan Non analitik. Sedangkan jika ditinjau dari hakekat usahanya, dapat dibedakan menjadi : Usaha aktif manusia dan apa yang diberikan.
Adapun Ciri-ciri Penalaran, yaitu :
1.      Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis).
2.      Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi, dan syarat-syaratnya adalah :
1.      Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
2.      Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

II.                 Jenis Metode Penalaran
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif. Perbedaan dari penalaran deduktif dan induktif adalah, penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.

a.      Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, alumunium, tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanaskan akan bertambah panjang. Biasanya penalaran induktif ini disusun berdasarkan pengetahuan yang dianut oleh penganut empirisme. Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum. (Khusus → khusus → khusus → umum)
Penalan induktif atau induksi itu sendiri terdapat dua bagian, yaiyu induksi kuat dan induksi lemah.
Induksi kuat :
Semua burung gagak yang kulihat berwarna hitam.
Induksi lemah :
Aku selalu menggantung gambar dengan paku.
Banyak denda mengebut diberikan pada remaja.
Hal-hal yang berhubungan dengan penarikan kesimpulan yang bersifat induktif terdiri dari 3 macam, yaitu :
1.      Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus untuk diambil kesimpulan yang bersifat umum. Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Generalisasi mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain.
Contoh:
Dari hasil tes evaluasi bidang studi matematika kelas XII SMA IPS, didapatkan data sebagai berikut: Umar, Ali dan Usman mendapat nilai 8. Siswa-siswa yang lain mendapat nilai 7, hanya Joni yang mendapat angka 6. Jadi, dapat dikatakan siswa kelas XII SMA IPS cukup pandai dalam matematika.
2.      Analogi
Analogi adalah penalaran yang membandingkan dua hal yang memiliki banyak persamaan sifat. Dalam hal ini hanya memerhatikan persamaannya tanpa memerhatikan perbedaannya. Cara ini didasarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi, maka akan ada persamaan pula dalam bidang/hal lainnya.
Contoh:
Alam semesta berjalan dengan sangat teratur seperti halnya mesin. Matahari, bumi bulan, dan bintang yang berjuta-juta jumlahnya beredar dengan teratur, seperti teraturnya roda mesin yang rumit berputar. Semua bergerak mengikuti irama tertentu. Mesin rumit itu ada penciptanya, yaitu manusia. Manusia yang pandai, teliti, dan bijaksana. Tidakkah alam yang Mahabesar dan beredar rapi sepanjang masa ini tidak pula ada penciptanya? Pencipta yang Mahapandai Mahameneliti, dan Maha Agung?
Penalaran secara analogi memiliki peluang untuk salah apabila kita beranggapan bahwa persamaan satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi-segi yang lain.
3.      Hubungan sebab-akibat
Hubungan sebab akibat dimulai dari beberapa fakta yang kita ketahui. Dengan menghubungkan  fakta yang satu dengan fakta yang lain, dapatlah kita sampai kepada kesimpulan yang menjadi sebab dari fakta itu atau dapat juga kita sampai kepada akibat fakta itu. Penalaran induksi sebab akibat dibedakan menjadi 3 macam:
a.       Hubungan sebab-akibat
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi sebab, kemudian ditarik kesimpulan yang berupa akibat.
Contoh penalaran hubungan sebab-akibat :
Belajar menurut pandangan tradisional adalah usaha untuk memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” mendapat tekanan yang penting, oleh sebab pengetahuan memegang peranan utama dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah kekuasaan. Siapa yang memiliki pengetahuan, ia mendapat kekuasaan.
b.      Hubungan akibat-sebab
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi akibat, selanjutnya ditarik kesimpulan yang merupakan penyebabnya.
Contoh penalaran hubungan akibat-sebab :
Dewasa ini kenakalan remaja sudah menjurus ke tingkat kriminal. Remaja tidak hanya terlibat dalam perkelahian-perkelahian biasa, tetapi sudah berani menggunakan senjata tajam. Remaja yang telah kecanduan obat-obat terlarang tidak segan-segan merampok bahkan membunuh. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian dari orang tua, pengaruh masyarakat, dan pengaruh televisi dan film yang cukup besar.
c.       Hubungan sebab-akibat 1-akibat 2
Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama menjadi sebab hingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua menjadi sebab yang menimbulkan akibat ketiga, dan seterusnya.
Contoh penalaran hubungan sebab-akibat 1-akibat 2 :
Setiap menjelang lebaran arus mudik sangat ramai. Seminggu sebelum lebaran jalanan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan umum maupun pribadi yang mengangkut penumpang yang akan pulang ke daerahnya masing-masing. Banyaknya kendaraan tersebut mau tidak mau mengakibatkan arus lalu lintas menjadi semrawut. Kesemrawutan ini tidak jarang sering menimbulkan kemacetan di mana-mana. Lebih dari itu bahkan tidak mustahil kecelakaan menjadi sering terjadi. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menghambat perjalanan.

b.    Penalaran Deduktif
Adalah cara pengambilan/penarikan kesimpulan dari keadaan yang umum kepada yang khusus. Dalam penarikan kesimpulan yang bersifat deduktif,kita perlu mengumpulkan fakta-fakta yang perlu adalah suatu proposisi (pernyataan) umum dan suatu proposisi yang bersifat mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang bertalian dengan proposisi umum. Jika identifikasi yang dilakukan benar dan proposisinya benar, maka diharapkan suatu kesimpulan yang benar dan proposisinya menarik kesimpulan disebut premis. (Umum → khusus → khusus → khusus).
Jenis-Jenis Penalaran Deduksi :
1.      Silogisme Kategorial
Silogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik.
Contoh: Semua korupsi tidak disenangi. Sebagian pejabat korupsi. Maka; Sebagian pejabat tidak disenangi.

2.      Silogisme Hipotetik
Silogisme Hipotetik adalah silogisme pengutaraan sesuatu yang dianggap benar dan kebenarannya sudah dapat dibuktikan.
Contoh: Saat ini hujan turun, untuk berangkat kekantor saya menggunakan angkutan saja, tidak membawa motor.
3.      Silogisme Alternatif
Silogisme dimana proposisi mengutarakan alternatif-alternatif yang ada.
Contoh: Jika ingin pergi ke Blok-M dapat menggunakan Bus Way atau menggunakan kendaraan pribadi.

III.             Kesimpulan
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama-sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian

Sumber :
http://pintarbahsa.blogspot.com/2012/11/penalaran-dalam-karangan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar