Tampilkan postingan dengan label #6 Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #6 Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

Alamku Yang Anggun


Bentangan permadani hijau
Terbentang luas tak bertepi
Engkau melambai-lambai. Menyambut datangnya surya
Keanggunan terpancar dari wajahmu
            Pucuk daunmu riang bercengkrama dengan si suara merdu
            Oh... betapa bahagia hatiku
            Alamku selalu bertaburan dengan permata keindahan
Kau anugerah negeriku, sumber kesenangan hidup
Tiada dapat kubayangkan bila kau rusak
Dijamah tangan tak berguna
            Alam-alamku
            Engkau elok bertabur bunga
            Laksana untaian mutiara yang terbentang
            Memancarkan sinar kebahagiaan

Sumber :
Dhiny Prihantini dalam Buku : Bhasa Indonesiaku Bahasa Negeriku, 2012

Banyak Orang Tetap Merokok Dengan Berbagai Alasan


Asap rokok mengepul dan puntung rokok berserakan mudah terlihat di seluruh sudut Kota Jakarta. Memang, hingga saat ini, banyak warga Ibu Kota merokok dengan bebas di tempat-tempat umum. Para perokok itu mengetahui Peraturan Daerah (PERDA) Larangan Merokok sudah berlaku. Toh, dengan berbagai alasan, tetap saja mereka merokok. Ada yang mengaku takut, tapi tetap merokok lantaran sudah kecanduan. Ada pula yang merokok dengan alasan untuk menghilangkan rasa kantuk. Macam-macam memang alasannya.
Kebiasaan merokok memang telah menjadi wadah berbahaya di Indonesia. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di dunia dengan jumlah pengguna rokoknya. Di indonesia, sekitar 428 ribu orang per tahun atau 1.172 orang per hari tewas akibat rokok.
Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Udara atau disebut pula Perda Larangan Merokok telah berlaku sejak 3 Februari 2006. Peraturan ini ditujukan untuk mengurangi masalah merokok di Ibu Kota. Pelanggar peraturan bisa terkena sanksi enam bulan penjara dan denda hingga Rp 50 Juta. Hanya saja, efektif tidaknya peraturan ini tergantung pada warga Jakarta sendiri.

Sumber :
Liputan6.com, 21 November 2008
Buku : Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku, 2012

RESENSI


RESENSI

Resensi merupakan salah satu bentuk ragam tulisan jurnalistik. Resensi buku sering juga disebut dengan timbangan buku, tinjauan pustaka, atau pembicaraan buku yang merupakan penilaian dari seorang pembaca (penulis resensi) mengenai seluk-beluk buku yang dibacanya.
Unsur-unsur resensi biasanya meliputi unsur sinopsis, kepengarangan, bahasa pengarang, keunggulan, kelemahan, dan kesimpulan dari buku tersebut. Inti dari sebuah resens adalah penilaian terhadap buku, apakah buku itu memiliki keunggulan, atau ada kekurangan sehingga perlu disempurnakan.
Kelebihan tulisan resensi dibanding jenis artikel lainnya adalah seperti berikut :
1.      Tidak cepat basi
Jika dibandingkan dengan bentuk tulisan berita, atikel, dan feature, resensi lebih tahan lama. Misalnya, resensi yang dikirimkan oleh seorang penulis resensi tersebut dikembalikan oleh redaksi, sang penulis tersebut masih dapat memperbaikinya dan mengirimkan ke media cetak lainnya.
2.      Menambah wawasan
Ketika hendak menulis resensi, otomatis kita perlu membaca buku tersebut secara tuntas. Dengan demikian wawasan kita akan bertambah dan disamping itu kemampuan kita dalam menganalisis masalah akan semakin bertambah pula.
3.      Menambah penghasilan
Jika sebuah resensi dimuat di media cetak, penulis resensi akan mendapatkan honor dari redaksi. Bahkan, tidak jarang pihak penerbit pun akan memberikan bingkisan jika mengetahui bukunya diulas dan dipublikasikan. Bagi penerbit itu sendiri, hal ini akan menjadi suatu cara berpromosi.
Sebelum menulis resensi ada baiknya memahami dasar-dasar menulis resensi sebagai berikut ini :
1.      Peresensi perlu memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku menulis buku.
2.      Peresensi perlu menyadari sepenuhnya tujuan menulis resensi.
3.      Peresensi perlu memahami latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya.
4.      Peresensi perlu memahami karakteristik media cetak yang menjadi tujuan pemuatan resensi.


Contoh Resensi :

sparatte beds.jpg

Judul Buku      : Separate Beds
Sub Judul        : Milikmu Seutuhnya
Penulis             : LaVyrle Spencer
Penerbit           : GagasMedia
Penerjemah      : Endang Sulistyowati
Tanggal Terbit : Agustus 2012
Genre              : Contemporary Romance

Spencer merupakan salah satu penulis buku luar negeri yang menjadi favorit saya. Meskipun hanya beberapa buku yang masuk ke Indonesia, tetapi hampir semua buku-bukunya sudah saya baca. Pada awalnya saya tidak berkeinginan untuk membeli buku ini, karena buku ini dikhususkan untuk pembaca yang berusia 17+, tetapi karena saya sangat menyukai buku-buku / novel terjemahan maka dari itu saya jadi keranjingan membaca buku-buku karya Spencer ini. Terbitan pertama buku Separate Beds tahun 1985. Walaupun buku ini sudah lama sekali diterbitkan, tetapi mampu menandingi buku-buku lain keluaran terbaru.
Beberapa orang mungkin tidak akan menyukai buku ini karena ceritanya terbilang lambat. Tapi ini memang salah satu ciri khas Spencer dalam membuat cerita yang mampu membuat hati para pembacanya terenyuh akan keharmonisan kalimat per kalimat didalamnya. Tidak hanya ceritanya yang lambat, Plot pun juga di ceritakan sedemikian lambat. Semua aspek diceritakannya dari pernikahan sampai kehidupan ke dua pasangan (tokoh dalam buku ini) setelahnya.

Clay Forrester, seorang mahasiswa Jurusan Hukum yang tampan, tidak menyangka bahwa hidupnya akan terikat dengan Catherine Anderson, mahasiswi serius dan kutu buku.  Semuanya dimulai pada suatu malam. Suatu malam yang tak terduga. Malam ketika mereka menghabiskan waktu bersama di bawah temaram sinar bulan dan bintang-bintang, serta sebotol anggur dalam genggaman yang mampu mengubah segalanya. Itulah yang kemudian terjadi pada Clay dan Catherine. Saat itu, Clay mendapati Catherine bersama keluarganya berada dirumah orangtua Clay. Mereka menuntut pertanggungjawaban Clay atas bayi yang sedang dikandung Catherine.
Sebenarnya, ada hal lain yang menjadi alasan akan ini semua. Ayah Catherine, Anderson, memaksa Catherine untuk datang ke kediaman keluarga Forrester untuk memeras harta dari keluarga tersebut. Anderson dikenal kasar, pemabuk kelas kakap yang sama sekali tidak memperdulikan Catherine dan istrinya. Yang Anderson pikirkan hanyalah uang, uang dan uang.
Meski belum mempercayai semua yang terjadi, akhirnya Clay dan Catherine mencapai sebuah kesepakatan. Mereka (dua orang dari dunia yang berbeda) akan menikah demi reputasi masing-masing dan setelahnya semuanya berjalan sesuai rencana. Perjanjian ini juga terjadi karena dalam waktu dekat Clay akan mendaftarkan dirinya dan akan bekerja dikantor ayahnya, Forreser, menjadi seorang pengacara handal yang mensyarakat Clay harus memiliki latar belakang yang bersih dan tidak memiliki anak haram diluar penikahan. Jadi mereka sepakat untuk mejalani hidup berumah tangga sampai Clay mampu melewati ujian dan masuk ke perusahaan ayahnya. Dan dalam perjanjian itu juga, Clay berjanji untuk membiayai semua kebutuhan hidup Catherine dan calon bayi mereka serta mendukung Catherine untuk menyelesaikan kuliahnya.
Sayangnya, yang terjadi demikian tidaklah semudah mengucapkan kesepakatan itu. Tanpa mereka sadar, benih-benih cinta itu telah hadir dan menyususp didalam hati masing-masing. Catherine merupakan seseorang yang tak tahu cara mencintai tapi ingin dicintai, sementara Clay, ia tahu arti dicintai tapi tak mau mencintai. Lama kelamaan perbedaan ini mampu meredam semuanya. Clay jadi terbiasa dengan kehadiran Catherine, terbiasa dengan ada yang menunggunya dirumah, terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga, dan calon bayi mereka. Sebenarnya Catherine mencintai Clay sejak awal namun memang sengaja tidak mengungkapkannya. Catherine berusaha bertahan, berusaha tetap menjaga tembok yang dibangunnya, karena dia tidak mau tersakiti lebih jauh saat dia harus meninggalkan Clay dan keluarga Forrester lainnya jika waktu perjanjian pernikahannya dengan Clay habis. Semua itu karena Clay tidak pernah mengatakan kata-kata bahwa sebenarnya dia jatuh cinta pada Catherine.
Lalu bayi mereka lahir, ketika Catherine belajar untuk sedikit demi sedikit menghancurkan tembok yang dibangunnya, Jill, gadis yang disebut sebagai pacar Clay mengatakan hal-hal yang membuatnya harus membangun tembok miliknya kembali. Keraguan dan ketidakpercayaan diri Catherine lah yang membuatnya kembali bersikap dingin dan keras kepala. Dengan penuh keputusasaan, Catherine dengan hati sekeras batu meminta cerai. Clay dengan segala cara menjelaskan kesalahpahaman ini dan sudah menjelaskan semuanya akhirnya menyerah. Akhirnya Clay pergi dari rumah, pergi dari sisinya dan kembali kedalam pelukan Jill.
Raganya memang pergi, tetapi pikiran dan jiwanya selalu berada pada Catherine dan Bayi perempuan mereka. Sampai kemudia di titik akhir, Clay kembali datang di depan pintu rumah mereka, bukan untuk memohon kembali, namun untuk menjenguk Catherine dan bayi merka sebelum semuanya benar-benar berakhir. Namu pada akhirnya Catherine mau menerima kembali kehadiran Clay kedalam rumah mereka dan berjanji untuk bersam-sama mewujudkan kehidupan yang sesungguhnya bersama.

Separate Beds merupakan sebuah novel karya Lavyrle Spencer yang mengisahkan tentang rumitnya sebuah hubungan rumah tangga yang terjadi tanpa perencanaan. Diawali dengan percintaan satu malam, mereka akhirnya harus bersepakat untuk menikah. Namun, cinta tidak akan diam begitu saja. Cinta menunjukkan kekuatannya di saat mereka harus berpisah.
Novel yang diterbitkan GagasMedia ini penuh dengan luapan emosi, kegetiran, sekaligus kebahagiaan. Kehangatan dan kekuatan cinta membuat semua permasalahan yang dialami seseorang akan lebih mudah untuk dihadapi.

Sumber :
Buku : Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku, 2012

Selasa, 30 April 2013

PROPOSAL


PROPOSAL

Proposal (usulan) adalah suatu permintaan kepada seseorang atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan.
Secara konkret proposal adalah rencana kerja yang disusun secara sistematis dan terinci untuk suatu kegiatan yang bersifat formal. Kegiatan yang dimaksud dapat mengenai pekerjaan fisik, seperti pembangunan gedung, dan dapat pula mengenai pekerjaan non fisik, misalnya kegiatan pemberantasan buta huruf. Berdasarkan bentuknya proposal dapat dibedakan yaitu proposal berbentuk formal, semi formal, dan non formal.
Proposal berbentuk formal sekurang-kurangnya terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1.      Bagian pelengkap pendahuluan, yang terdiri atas :

-          Sampul dan halaman judul
-          Kata pengantar
-          Abstraksi
-          Daftar isi
-          Penegasan permohonan

2.      Isi proposal, terdiri atas :

-          Latar belakang masalah
-          Tujuan
-          Ruang lingkup dasar
-          Metodologi
-          Fasilitas
-          Personalia
-          Keuntungan dan kerugian
-          Waktu
-          Biaya

3.      Bagian pelengkap penutup, dimana terdiri atas :

-          Daftar pustaka                                          - Daftar tabel
-          Lampiran                                                   - Dan sebagainya
Susunan dan perincian tiap bagian diatas tidak mutlak harus mengikuti pola tersebut, kemungkinan ada bagian yang dapat di gabungkan.
Sementara proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi dari bentuk formal, karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak selengkap seperti proposal formal.
Isi sebuah proposal ada yang sederhana ada yang kompleks. Isi proposal yang kompleks seperti yang terdapat dalam bentuk formal diatas, sedangkan isis proposal yang sederhana hanya meliputi :

a.       Nama kegiatan (judul)
b.      Dasar pemikiran
c.       Tujuan dan manfaat
d.      Ruang lingkup
e.       Waktu dan tempat kegiatan
f.       Penyelenggara (panitia)
g.      Anggaran biaya
h.      Penutup

·                     Contoh Proposal Ilmiah
KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami ingin mengucapkan puji dan sykur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberkati kami sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan karya tulis ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data dan fakta pada karya tulis ini.
Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan karya tulis ini yang telah kami selesaikan. Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Di mana kami juga memiliki keterbatasan kemampuan.
Maka dari itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan dan juga kekurangan, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki karya tulis kami di masa datang. Sehingga semoga karya tulis berikutnya dan karya tulis lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.
Dengan menyelesaikan karya tulis ini kami mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari karya ini. Semoga dengan adanya karya tulis ini dapat mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan boraks dan formalin sebagai pengawet pada makanan. Dengan begitu maka kesehatan akan lebih terjamin dan tidak ada lagi muncul berbagai penyakit baru yang diakibatkan penggunaan bahan-bahan terlarang sebagai bahan baku makanan. Kami juga mengharapkan kinerja yang lebih baik dan tegas serta efektif dari pihak pengawas makanan yang merupakan bagian dari kepemerintahan, sehingga makanan yang dihasilkan dari Indonesia dapat lebih terjamin dan sehat.

Penulis

HALAMAN MOTTO
Motto yang kami pegang dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :
“ORA ET LABORA”

HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk :
Seluruh pembaca dan masyarakat Indonesia yang menginginkan kemajuan bangsa dan kecerdasan bangsa.

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan  ............................................................................................... 1
Kata Pengantar           ............................................................................................... 2
Halaman Motto           ............................................................................................... 3
Halaman Persembahan .............................................................................................. 4
Daftar Isi                     ............................................................................................... 5
Abstraksi                     ............................................................................................... 6
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah   ................................................................................... 7
1.2 Pembatasan Masalah         ................................................................................... 7
1.3 Perumusan Masalah          ................................................................................... 8
1.4 Tujuan Penulisan               ................................................................................... 8
1.5 Metode Penelitian             ................................................................................... 9
1.6 Hipotesa…………………....…………………………………………………... 9
1.7 Manfaat…………....…………………………………………………………... 9
BAB II LANDASAN TEORI           ................................................................................. 11
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian      ............................................................................................. 14
3.2 Sumber Data         ............................................................................................. 14
3.3 Teknik Pengumpulan Data            ..................................................................... 14
3.4 Teknik Analisis Data         ................................................................................. 15
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Boraks dan Formalin   ..................................................................... 16
4.2 Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan         ..................... 16
4.3 Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Boraks      ..................... 18
4.4 Peran pemerintah dalam memberantas boraks
dan formalin di Indonesia       ................................................................................. 21
BAB V PENUTUP    ............................................................................................. 23
BAB VI DAFTAR PUSTAKA         ..................................................................... 25
ABSTRAKSI
Karya tulis ini menjelaskan tentang bagaimana sekarang ini banyak kejadian penggunaan boraks dan formalin sebagai bahan pengawet makanan. Di mana kedua bahan tersebut sangat dilarang digunakan sebagai bahan baku makanan. Dan jika penggunaannya terus dilakukan dan dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai penyakit terutama kanker dan bahkan kematian untuk tingkat yang lebih lanjut. Hal ini telah menjadi hal yang cukup serius dan menjadi suatu masalah yang berusaha diselesaikan dengan baik oleh berbagai pihak terutama pemerintah.
Sebagai pusat utama kelangsungan negara, pemerintah harus dapat dengan bijak memutuskan dan bertindak bagaimana penanganan kasus tersebut. Terutama kasus pada pembuatan bakso dengan bahan pengawet boraks dan berbagai makanan seperti ikan asin serta tahu yang diawetkan dengan menggunakan formalin. Berbagai solusi kami tuliskan di sini. Tetapi solusi tersebut tidaklah semuanya dapat dijalankan dengan hasil yang cepat dan ada kemungkinan banyak faktor yang menyebabkan penyelesaian masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Karena masalah ini harus kembali lagi kepada masyarakatnya yang terlibat langsung.

BAB I
1.1       Latar Belakang Masalah
Sekarang ini banyak sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.
Hal ini sangat penting dan juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan kebobrokan bangsa yang harus diperbaiki. Janganlah sampai membiarkan hal ini terus berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan. Oleh karena itu, kami berusaha merangkum sedemikian rupa dan mencoba membedah apa saja yang seharusnya dilakukan dan mengapa hal ini menjadi hal yang sangat penting.
1.2       Pembatasan Masalah
Boraks adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Sedangkan formalin adalah bahan kimia yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga dan dalam industri tekstil serta kayu lapis.
Kedua bahan kimia tersebut memang berguna jika digunakan sesuai fungsinya, tetapi menjadi sangat berbahaya bila digunakan dalam pembuatan pangan. Di mana pangan itu merupakan segala sesuatu yang menjadi bahan makanan manusia. Dan akibat dari penggunaan bahan-bahan kimia tersebut bisa jadi sangatlah fatal, dari kanker hingga menyebabkan kematian.
Dalam karya tulis ini kami akan berusaha membahas pendeskripsian sedetail mungkin dari boraks dan formalin itu sendiri serta bagaimana kedua bahan kimia tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pangan. Begitu pula dengan berbagai akibat dari penggunaan boraks dan formalin pada pangan tersebut serta bagaimana solusi yang harus dilakukan demi membasmi hal ini dan mencegah terjadi lagi.
1.3       Perumusan Masalah
1.      Apa faktor yang mendorong pihak-pihak tertentu untuk menggunakan boraks atau formalin pada pangan yang diproduksinya?
2.      Jenis pangan apa saja yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya?
3.      Bagaimana mengetahui suatu pangan dibuat dengan bahan pengawet dari boraks atau formalin?
4.      Apa akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan?
5.      Bagaimana penanganan penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan ini supaya dapat dibasmi secara tuntas?
1.4       Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian boraks dan formalin.
2.      Mengetahui jenis-jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks dan formalin pada proses pembuatannya.
3.      Mengetahui dampak negatif dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
4.      Mengetahui peranan pemerintah dalam memberantas penggunaan formalin dan boraks pada makanan.
1.5       Metode Penulisan
Pada penulisan karya tulis ini kami menggunakan satu metode, yaitu dengan angket. Di mana angket akan kami sebarkan dengan jumlah 40 lembar. Di mana angket itu berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai boraks dan formalin pada makanan mengacu pada tujuan yang telah ada.
1.6       Hipotesa
1.      Boraks dan formalin merupakan bahan pengawet yang umumnya digunakan untuk industri tekstil, kayu, dsb. Dapat juga digunakan sebagai pembasmi serangga dan hal-hal lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan makanan.
2.      Jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya adalah tahu, tempe, bakso dan ikan asin.
3.      Akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan adalah berbagai gangguan pada saluran pencernaan, hati, saraf, otak, serta pada organ-organ yang berselaput yang terkena secara langsung. Dan bila terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kanker bahkan kematian.
4.      Sebenarnya pemerintah telah berperan dalam pemberantasan penggunaan boraks dan formalin pada produk makanan. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah kurang tegas dan tidak tepat mengenai sasaran. Sehingga hingga sekarang kita masih sering melihat orang-orang yang keracunan atau terkena penyakit lainnya, disebabkan memakan makanan yang mengandung boraks atau formalin.
1.7       Manfaat
Dapat mengetahui cirri-ciri makanan dengan bahan baku boraks atau formalin sebagai pengawet sehingga dapat menghindarinya.
Dapat menghindari secara langsung penggunaan boraks dan formalik pada produk pangan.
Dapat menambah wawasan dengan mengetahui dampak yang diakibatkan dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
Dapat membantu pencegahan dan pemberantasan penggunaan boraks dan formalin dengan berbagai solusi yang telah dipikirkan.

BAB II
LANDASAN TEORI
Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi boraks tidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.
Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.
Boraks dan formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan seharusnya, tetapi kedua bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet makanan karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan diatas pengaruhnya terhadap kesehatan. Walaupun begitu, karena ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen makanan yang tetap menggunakan kedua bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya. Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan adalah karena kedua bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat, karena harga nya relatif murah dibanding bahan pengawet lain yang tidak berpengaruh buruk pada kesehatan. Selain itu, boraks dan formalin merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso dan kerupuk. Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering menggunakan boraks dan formalin adalah bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie, dan juga daging ayam.
Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang digunakan dalam suatu makanan. Oleh karena itu lebih baik hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks. Berikut adalah beberapa cara mengidentifikasi makanan yang menggunakan formalin dan boraks.
·         Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan banyak daging.
·         Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.
·         Ikan basah yang tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.
·         Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari 3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin.
·         Mie basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat celcius), berbau menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1       Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang kami gunakan adalah penelitian korelatif. Yang di maksud dengan penelitian korelatif adalah penelitian yang menghubungkan data-data yang ada. Sesuai dengan pengertian tersebut kami menghubungkan data-data yang kami dapat antara yang satu dengan yang lain. Selain itu kami juga menghubungkan data-data yang ada dengan landasan teori yang kami gunakan. Sehingga diharapkan penelitian kami bisa menjadi penelitian yang benar dan tepat.
3.2       Sumber data
Sumber data kami adalah beberapa siswa SMA Kanisius, yang kira-kira kami ambil sampel adalah 40 siswa.
3.3       Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah dengan angket. Dengan angket kami dapat menyimpulkan, melalui jumlah koresponden yang menjawab pertanyaan tertentu dan membandingkan jumlah koresponden yang menjawab dengan jawaban yang berbeda pada pertanyaan yang sama. Dan setiap dari pertanyaan itu akan saling berkaitan.
3.4       Teknik Analisis Data
Cara kami dalam menganalisis data yang kami dapat yaitu dengan pertama-tama memastikan bahwa semua data dan landasan teori yang diperlukan telah diperoleh dengan baik. Lalu kami mulai menghitung jumlah data, setelah itu kami mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan pada angket berdasarkan jumlah responden yang memilih. . Langkah berikutnya, sesuai dengan jenis penelitian kami, kami menghubungkan data-data yang satu dengan yang lain dan juga dengan landasan teori yang ada. Langkah terakhir, kami menuangkannya dalam karya tulis ini.

Sumber :
Prediksi soal-soal ujian nasional hal 44